The History Of Khadija Mosque In Berlin. English\Dutch

Rabu, 02 April 2008

Guratan Penaku

I Believe I Can Fly…
(Asma binti Yazid bin Sakan Duta Bagi Para Muslimah)

Kalau aku sedang mendengarkan lirik lagu ini, aku merasa seperti seekor burung merpati kecil yang mulai mengepakkan sayapnya dan terbang menjangkau langit tinggi..terbang dan terus terbang menggapai cakrawala, mengahampiri pelangi nan indah dan meraih gumpalan awan putih seakan ingin merebahkan diri diatasnya.

Lagu ini memang memberikan inspirasi tersendiri bagiku, yang jelas aku semakin termotivasi untuk menggapai dan meraih cita-citaku. Aku ingin menjadi sesuatu yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain.


Kalau bicara tentang cita-cita, aku tidak pernah konsisten sejak dari masa kanak-kanak. Sekarang ingin jadi ini, besok sudah berubah lagi ingin jadi itu. Tapi akhirnya aku mencoba untuk merumuskan sendiri apa sebenarnya yang menjadi keinginanku, ternyata jawabannya simple saja bahwa aku ingin menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Oleh karena itu ketika aku memutuskan untuk menekuni bidang farmasi di salah satu sekolah menengah kejuruan di Jakarta, maka aku merasa enjoy dengan pilihanku sebab aku yakin bisa mengabdikan diri untuk kemanfaatan orang lain dengan ilmu yang aku miliki nantinya. Sampai pada akhirnya aku lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, bahkan sebelum ijazah kelulusan aku terima, aku juga sudah diterima bekerja di salah satu rumah sakit swasta sebagai asisten apoteker. Sebenarnya aku juga memiliki rencana tersendiri ketika aku memutuskan untuk bekerja dulu dan tidak langsung melanjutkan ke bangku kuliah karena aku tidak mau menyusahkan orang tuaku. Aku ingin membiayai kuliahku nantinya dengan uang hasil kerja sendiri. Sampai pada akhirnya aku memutuskan juga untuk menerima lamaran seorang pemuda yang ingin menikahiku, walaupun sebenarnya berat rasanya mengambil keputusan ini karena banyak keinginanku yang masih belum terealisasi apabila aku menikah nantinya pasti semakin berat untuk mewujudkannya. Tapi aku juga tidak mau menolak jodoh yang Tuhan telah berikan kepadaku karena proses pernikahanku juga sudah melalui tahap shalat Istikharah dan Tuhan memang telah memberikan isyarah-isyarah yang baik.

Singkat cerita pernikahanku pun terjadi akan tetapi aku masih tetap bekerja di rumah sakit swasta itu sampai akhirnya Tuhan memberikan aku anugerah dengan kehamilanku yang pertama. Dan tepat pada tanggal 25 Februari 2007 dengan karunia Allah aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat lucu. Setelah itu suamiku memberikan pendapatnya bahwa sebaiknya aku keluar dari pekerjaanku supaya bisa mengurus anak dengan baik, apalagi anak masih bayi yang membutuhkan perhatian extra dari ibunya. Setekah aku pertimbangkan ternyata masuk di akal juga pendapatnya sebab aku juga tidak mau anakku diasuh oleh pembantu dari sejak bayi. Walupun berat rasanya akhirnya aku mengajukan permohonan mengundurkan diri dari rumah sakit tempat aku bekerja walaupun berkali-kali dari pihak rumah sakit menyarankan aku untuk tidak keluar dan mengambil cuti saja beberapa saat. Tapi keputusanku sudah bulat akhirnya aku pun keluar dari tempat kerjaku. Sebenarnya sedih rasanya harus mengorbankan pekerjaanku karena aku bekerja bukan hanya mencari uang tapi juga kepuasan batin karena bisa memanfaatkan ilmu yang aku miliki untuk membantu orang lain. Pada waktu itu aku seperti seekor burung merpati yang patah sayapnya sehingga lirik lagu yang pantas dilantunkan pada waktu itu adalah “I don’t believe I Can fly” or “I Can’t fly anymore”. Sehingga aku memberanikan diri untuk mendiskusikannya lagi kepada suamiku walaupun sebenarnya suamiku juga tidak benar-benar melarang karena dia hanya mengemukakan satu realita, kalau aku terus bekerja siapa yang akan merawat dan menjaga anakku. Sebenarnya dia juga tahu betul apa yang menjadi kegundahan hatiku, bahwa aku merasa menjadi seseorang yang sudah tidak bisa bermanfaat lagi untuk orang lain. Maka suamiku pun menceritakan satu riwayat hadits yang sangat menggugah semangat “emansipasi” bagi kaum wanita.

Demikian bunyi terjemah haditsnya:
“Imam Muslim meriwayatkannya dalam shahihnya bahwa Asma binti Yazid bin Sakan r.a datang mengahdap Nabi s.a.w dan berkata,”Aku adalah seorang duta dari sekian banyak wanita muslim yang ada di belakangku. Mereka semua meyatakan dan berpendapat sepertiku. Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada kaum lelaki dan wanita, sehingga kamipun beriman kepadamu dan mengikutimu. Namun kami sebagai kaum wanita punya keterbatasan dan banyak halangan serta hanya banyak duduk di rumah. Sementara itu kaum pria mempunyai kelebihan dengan bisa melaksanakan shalat Juma’at, mengiring jenazah serta jihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, maka kami yang menjagakan harta mereka dan yang mengurus anak-anak mereka. Apakah kami juga mendapatkan pahal yang serupa, ya Rasulullah?”
Rasulullah s.a.w kemudian menoleh kepada para sahabat beliau dan bertanya, “Apakah kalian mendengar perkataan wanita yang mempunyai pertanyaan sangat baik ini mengenai urusan agamanya?” Mereka menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Rasululkah s.a.w kemudian bersabda: “Sekarang pulanglah engkau, wahai Asma. Beritahukan kepada wanita-wanita yang ada di belakangmu bahwa pelayanan baik yang dilakukan oleh salah seorang diantara kalian kepada suaminya, mencari keridhaanya, dan selalu mematuhinya sebanding dengan apa yang akmu sebutkan tadi”

Aku sesaat tertegun setelah membaca hadits tersebut dan menyadarkan aku betapa luhur dan mulianya tugas seorang istri. Kemudian suamiku juga menjelaskan peran wanita yang utama adalah mempersiapkan generasi mendatang yang memiliki kualitas iman,takwa dan intelektualitas yang mumpuni. Walaupun sebenarnya memang hal itu menjadi kewajiban dari kedua orang tuanya tapi realitanya seorang ibu memiliki waktu yang lebih banyak di rumah untuk bisa memberikan tarbiyat kepada anak-anaknya. Pantas saja dalam hadits yang lain Rasulullah s.a.w bersabda bahwa surga itu terletak di bawah kaki ibu. Jadi seorang ibu memiliki peran yang sangat urgen dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Disinilah sebenarnya letak emansipasi wanita yang memiliki peran strategis untuk mempersiapkan generasi selanjutnya yang bisa menjadi harapan untuk agamanya,bangsanya dan keluarganya. Apa gunanya kalau suami istri sibuk berkarir di luar akan tetapi anak-anaknya tidak tertangani dengan baik pendidikan spiritual dan moralnya. Tidak jarang terjadi bahwa anak-anaknya sendirilah yang telah menghancurkan “kerajaan” dan kebesaran nama keluarganya yang dibangun oleh ibu bapaknya dengan susah payah dengan kelakuan mereka yang sangat mempermalukan nama ibu bapaknya.Apalagi dalam kondisi saat ini dimana lingkungan sangat berpengaruh terhadap akhlak dari anak-anak kita. Dibutuhkan peran besar bagi orang tua untuk benar-benar mengawasi pergaulan anak-anaknya.

Islam tidak pernah mengajarkan diskrimansi atau merendahkan derajat kaum wanita justru Islam sangat menjujung tinggi hak dan kehormatan wanita dengan menempatkan wanita pada peran yang sangat potensial yaitu mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas tinggi. Walaupun kelihatannnya peran wanita itu solah-olah ada di belakang akan tetapi menurut pandangan Allah Taala bukan berarti derajatnya tidak akan bisa mengungguli kaum pria. Sangat mungkin terjadi dalam hal ketakwaan derajat ketakwaan seorang wanita bisa jauh lebih unggul dalam pandangan Allah Taala karena yang membedakan antara hamba yang satu dengan yang lain di mata Tuhan adalah ketakwaannya bukan karena gender. Jadi karier terbaik bagi seorang ibu adalah menjadi manager dalam rumah tangga suaminya. Oleh karena itu dibutuhkan juga leadership yang sangat baik sehingga bisa berhasil menjadi manager bagi rumah tangga suaminya.

Jadi merpati kecil ini yang tadinya sudah merasa tidak dapat terbang lagi, kini merasa yakin..I Believe I Can Fly..bahkan aku yakin akan bisa terbang jauh lebih tinggi mengungguli yang lainnya. InsyaAllah. Mari kita sama-sama ber-fastabiqul khairat. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amiin

Tidak ada komentar:

Exchange link

Exchange link


Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali
Aisyah Blog