The History Of Khadija Mosque In Berlin. English\Dutch

Selasa, 09 Desember 2008

Jari Tangan dan Tingkat Kecerdasan

Mengukur Kecerdasan Berdasarkan Jari Tangan


http://arsip.info/sains/riset/praktis/mengukur/kecerdasan/dari/ukuran/jari/tangan/07_05_21_010630.html
Sains - Untuk menilai cepat kecerdasan seseorang, lihatlah perbandingan panjang jari manis dan jari telunjuknya. Penelitian terbaru menyebutkan, seorang anak yang memiliki jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan matematika yang lebih tinggi daripada kemampuan verbal dan bahasa.
Mengukur Kecerdasan Berdasarkan Jari Tangan
Jika perbandingannya sebaliknya, anak umumnya memiliki kemampuan verbal seperti menulis dan membaca yang lebih baik dibandingkan matematika.

Menurut Mark Brosnan dari Universitas Bath, panjang jari-jari tangan seseorang merefleksikan perkembangan bagian - bagian di otak. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa pertumbuhan jari-jari tangan manusia berbeda-beda tergantung kadar hormon testosteron dan estrogen di dalam rahim saat bayi dikandung ibunya.

Kadar testosteron yang tinggi diyakini mendukung perkembangan bagian otak yang berhubungan dengan kemampuan matematika dan pandang ruang. Hormon itu pula yang menyebabkan jari manis tumbuh lebih panjang.

Estrogen juga mendorong efek yang sama pada bagian otak namun yang berhubungan dengan kemampuan verbal. Namun, hormon ini juga mendukung pertumbuhan jari telunjuk sehingga lebih panjang daripada jari manis.

Untuk menguji hubungan kecerdasan dengan rasio panjang jari tangan, Brosnan dan koleganya membandingkan hasil tes scholastik (SAT), semacam psikotes di sini, kepada calon siswa yang mendaftar sekolah dengan panjang cap jari setiap siswa yang telah diminta sebelumnya. Mereka mengukur panjang jari-jari secara teliti menggunakan jangka sorong yang memiliki tingkat ketelitian 0,01 milimeter.

Kemudian, rasio panjang jari dipakai untuk memperkirakan perbandingan kadar testosteron dan estrogen. Hasil tes siswa laki-laki dan perempuan dipisahkan.

Mereka menemukan hubungan yang jelas antara tingginya paparan testosteron - terlihat dari panjang jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk - dengan nilai uji matematika yang tinggi. Juga tingginya paparan estrogen dengan kemampuan bahasa dan verbal pada sebagian besar anak perempuan.

"Rasio panjang jari memberitahu kita gambaran mengenai kemampuan pribadi yang berhubungan dengan kognitif (daya pikir)," ujar Brosnan yang akan melaporkan temuannya dalam British Journal of Psychology. Pada penelitian selanjuntya, ia akan mempelajari hubungan antara rasio panjang jari dengan perilaku seperti teknophobi, karir, dan disleksia.

Sumber: Kompas - URL Sumber: klik di sini
URL Arsip: http://arsip.info/07_05_21_010630.html

Read More......

Jumat, 26 September 2008

Puasa Ramadhan

Puasa Mengharap Ridha Allah


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (al-Baqarah [2]:183)

Di dalam ayat ini Allah Taala dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan dari ibadah puasa yang dilakukan adalah untuk mencapai ketakwaan. Artinya sebagai hasil yang diharapkan dari puasa tersebut, harus tercipta satu bentuk kemajuan demi kemajuan dalam hal kedekatan hubungan dengan Allah Taala. Sehingga YM Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (HR. Bukhari)
Dan beliau juga bersabda : Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau. (HR Bukhari)

Oleh karena itu Rasulullah saw menasehatkan, niatkanlah puasa kalian hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah Taala. Jangan pernah meniatkan puasa untuk maksud-maksud yang lain. Sehingga dalam sebuah hadits yang lain ada sebuah riwayat, dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman : Semua amal shaleh anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kalinya, bahkan sampai 700 kalinya, kecuali puasa, sebab puasa adalah milik-Ku dan hanya Aku lah yang akan membalasnya, hal ini dikarenakan seseorang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yakni kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika menghadap Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa itu dalam pandangan Allah lebih harum dari minyak kesturi. Puasa adalah perisai. Jika seseorang sedang puasa, janganlah ia berbuat atau berkata yang tidak senonoh. Jika ada seseorang yang memakinya, hendaklah ia mengatakan : Maaf aku sedang puasa. (HR Bukhari-Muslim)
Dari hadits-hadits ini dapat dipahami bahwa puasa melatih kita untuk melakukan apapun hanya dengan satu tujuan untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala yaitu untuk mencari kesenangan Allah Ta’ala. Ibadah apapun yang kita lakukan tidak akan mendapat berkat apapun kalau tidak diniatkan untuk mencari mardhotillah. Allah Taala berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (al-Baqarah [2]:207)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (al-Baqarah [2]:208)
Kedua ayat ini menjelaskan bahwa, orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah Taala adalah orang-orang yang mampu mempersembahkan ketundukan, kepatuhan, keitaatan dan penyerahan diri yang sempurna kepada Allah Taala dan Rasul-Nya. Apabila ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah Taala dan Rasul-Nya tidak diupayakan dengan maksimal, maka ridha Allah Taala pun akan semakin menjauh.
Di dalam Tafsir Kabir dalam kaitannya dengan ayat ini, Hdh. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra menjelaskan: Perhatian mereka adalah hanya untuk mencari kesenangan Tuhan. Mereka telah menyerahkan seluruh jiwanya untuk tujuan itu. Mereka menggunakan berbagai hal di dunia ini bukan karena benda-benda duniawi ini menyenangkan mereka. Akan tetapi karena Hukum Tuhan yang telah membuatnya sebagai sarana pendukung kehidupan sehingga mereka mendapatkan kemudahan di dalam pilihannya untuk mengabdi kepada Tuhan. Dimana mereka meyakini mendapatkan segala sesuatu dari dunia ini tidak atas usahanya sendiri melainkan semuanya berasal dari Tuhan. Untuk berbagai pengabdian kepada-Nya, Tuhan tentu saja yang paling memiliki rasa belas kasih yang lebih besar kepada mereka, dan rasa belas kasih Tuhan kepada mereka memiliki kelembutan seperti adonan kue dengan ragi yang sempurna.

Puasa adalah ibadah yang sangat private, hanya kita dan Allah Taala sendiri yang tahu. Apa niat kita berpuasa, sejauh mana puasa itu membawa perubahan kepada kondisi spiritual dan kerohanian kita, tidak ada yang tahu melainkan diri kita sendiri dan Allah Taala. Oleh karena itu puasa melatih kejujuran kita. Kalau Allah Taala berfirman puasa itu untuk Aku, maka niat kita haruslah semata-mata untuk mencari kesenangan Allah Taala. Misalnya : Ketika berpuasa dia minum secara diam-diam, tidak ada orang lain yang tahu akan tetapi dia sudah membohongi Tuhan. Bukan orang lain yang dia bohongi akan tetapi Tuhan, karena puasa itu tidak ditujukan kepada siapapun melainkan untuk Tuhan. Jadi mencari ridha Allah artinya bukan mencari kesenangan orang tua, saudara, pimpinan, dll akan tetapi selalu memikirkan tindakan dan amalnya harus menyenangkan Tuhan. Dalam hal-hal lain pun hendaknya demikian. Misalkan tentang menaati Amir (pimpinan), dia taat kepada Amir bukan untuk menyenangkan hati Amir tersebut akan tetapi hanya untuk mengharap kesenangan Allah Taala. Kalau kita bekerja dalam pengkhidmatan terhadap agama, hanya mendasarkan semuanya untuk mencari ridha Allah Taala semata, maka Insya Allah sesuai dengan janji-Nya, wa lâ khoufun ‘alaihim wa lâ hum yahzanûn (tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati).

Ada satu kisah yang indah telah dicontohkan oleh seorang Rabia’ah Al-Adawiyyah. Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berdekatan dengan kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. Hidupnya sudah dipersembahkan untuk mengkhidmati Tuhan. Semua yang dilakukannya hanya untuk mengharap ridha Allah semata.

Suatu kali karena terkenal dengan kemakbulan doa-doanya banyak orang yang datang untuk memohon doa kepadanya. Sampai pada suatu waktu ada seorang yang sakit datang minta didoakan supaya segera sembuh dari sakitnya. Dan beberapa waktu kemudian dia datang kembali dalam keadaan telah sembuh dari sakitnya. Setelah mengucapkan terima kasih, dia bertanya : Wahai Rabiah, engkau adalah seorang hamba yang dekat degan Tuhan, sehingga doa-doamu selalu diijabah oleh-Nya. Akan tetapi saya heran, mengapa engkau sendiri dalam keadaan sakit-sakitan yang memprihatinkan sedangkan engkau dan doa-doamu telah banyak membawa kesembuhan bagi orang lain. Apakah doamu untuk dirimu sendiri tidak didengar oleh Tuhan? Lalu Rabiah menjawab : Aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan sakitku, karena aku takut kondisi seperti inilah yang memang Tuhan kehendaki dariku. Kalau aku berdoa untuk kesembuhanku berarti aku tidak mencari keridhoan Tuhan. Biarlah aku dalam kondisi seperti ini, asalkan Tuhan ridho terhadapku .Demikianlah sebuah teladan bagi kita tentang mencari ridha Allah Taala karena masalah ini adalah masalah yang sangat latif (halus). Bagi seorang Rabiah Al-Adawiyyah, berdoa untuk memohon kesembuhan untuk dirinyapun takut dipanjatkannya, karena takut bertentangan dengan keridhaan Tuhan. Maksudnya kalau Tuhan akan memberikan kesembuhan, biarlah Dia berikan kesembuhan kapan pun Dia mau.

Sehingga Rabiah pun biasa mendoa kepada Tuhannya : “Ya Allah jika aku menyembah-Mu karena takut terhadap api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku kesempatan untuk melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”
Dan doanya lagi : “Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku merasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan perjumpaan? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, niscaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Muhammad Idris-Ramadhan 1429 H







Read More......

Jumat, 19 September 2008

Info Islam

(Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan Mau I'tikaf?Mau tahu Caranya Kan?Baca ya..)

Petunjuk Pelaksanaan I’tikaf

Sesuai dengan sunnah YM Rasulullah saw, I’tikaf biasanya beliau lakukan di dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan bunyi matan beberapa riwayat hadits berikut ini :

1. 'Aisyah Radliyallaahu 'anha berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila memasuki sepuluh hari -- yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan-- mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. HR Bukhari-Muslim. (Kitab Hadits Bulughul Maram)

2. Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anha bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sepeninggalnya. HR Bukhari-Muslim. (Kitab hadits Bulughul Maram)
3. Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Rasulullah biasa melakukan i'tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan."(HR Bukhari)

4. Aisyah r.a. istri Nabi mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri'tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri'tikaf sepeninggal beliau.(HR Bukhari)

Dan YM Rasulullah saw selalu melaksanakan I’tikaf di dalam masjid. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala :
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dan janganlah kamu campuri mereka itu (istri-istrimu), sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.(al-Baqarah [2]:187)
Para mu’takif yang melaksanakan I’tikaf di masjid dapat menggunakan tenda-tenda dari kain untuk dijadikan ruang pelaksanaan I’tikafnya sehingga tidak saling mengganggu peserta I’tikaf yang lainnya. Hal ini juga sesuai dengan bunyi terjemah matan hadits berikut ini :
Aisyah r.a. berkata, Nabi beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari bulan Ramadhan. Maka, saya buatkan untuk beliau sebuah tenda. Setelah shalat subuh, beliau masuk ke dalam tenda itu. (HR Bukhari)
Sehingga sesuai dengan arti dari I’tikaf yaitu berhenti atau berdiam diri, maka para mu’takif yang sedang melaksanakan I’tikaf hendaknya menghentikan diri dari semua aktifitas duniawi selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, dan memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dengan memperbanyak tadarus serta tadabbur al-Quran, berdzikir Ilahi, sholat-sholat sunnah maupun nafal, dan kegiatan ibadah lainnya yang bertujuan untuk menambah kedekatan hubungan dengan Allah Ta’ala. Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini :
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Adalah Rasulullah saw., beliau bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tidak seperti pada hari lainnya. (Shahih Muslim No.2009)
Para mu’takif juga tidak diperkenankan mengerjakan hal-hal yang sia-sia selama pelaksanaan I’tikaf, misalnya : banyak bicara dan berbincang-bincang dengan peserta yang lain, bersenda gurau atupun bercanda, berbuat gaduh, dll. Sesuai dengan keterangan hadits berikut ini, maka para mu’takif harus benar-benar memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan banyak melakukan muhasabah diri. Di dalam sebuah hadits diriwayatkan :
'Aisyah Radliyallaahu 'anha berkata: Disunahkan bagi orang yang beri'tikaf untuk tidak menjenguk orang sakit, tidak melawat jenazah, tidak menyentuh perempuan (istri) dan tidak juga menciumnya, tidak keluar masjid untuk suatu keperluan kecuali keperluan yang sangat mendesak, tidak boleh i'tikaf kecuali dengan puasa, dan tidak boleh i'tikaf kecuali di masjid jami'. Riwayat Abu Dawud. Menurut pendapat yang kuat hadits ini mauquf akhirnya. (Kitab Hadits Bulughul Maram)
Bahkan di dalam hadits tersebut disunahkan ketika dalam pelaksanakan I’tikaf untuk tidak menjenguk orang sakit, melawat jenazah, dll walaupun bunyi matan hadits tersebut juga bukan artinya melarang untuk melakukan hal-hal tersebut. Hanya kalau memang tidak benar-benar bersifat darurat dan sangat mendesak maka diusahakan agar para mu’takif tetap berkonsentrasi dalam pelaksanaan I’tikafnya di masjid.
Hal penting lainnya yang harus dipahami oleh para peserta I’tikaf adalah, karena dalam pelaksanaan I’tikaf ini dilakukan bersama-sama dengan para mu’takif yang lain, maka masing-masing peserta harus dapat saling menjaga ketenangan dalam pelaksanaan ibadahnya. Dalam pelaksanaan ibadah pun tidak boleh sampai mengganggu peserta I’tikaf yang lain, misalnya : tilawat al-Quran dengan suara yang sangat nyaring, dll. Hal ini akan berpotensi mengganggu ketenangan dan kekhusyukan pelaksanaan ibadah dari para peserta I’tikaf yang lain.
Semoga Allah Ta’ala meridhoi dan memberkati pelaksanaan I’tikaf di bulan Ramadhan 1429 H ini dengan keberkatan dan karunia yang berlimpah. Amiin
Panitia I’tikaf Masjid Al-Hidayah-Ramadhan 1429 H





Read More......

Senin, 01 September 2008

Marhaban Ramadhan



Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1429 H
Marhaban Ya Ramadhan.


Read More......

Puasa Ramadhan

Praktek Puasa Rasulullah SAW
Oleh : Muh Idris

Allah SWT di dalam al-Quran mewajibkan kepada umat Islam untuk berpuasa ketika memasuki bulan Ramadhan. Perintah ini dalam redaksi kalimatnya ditujukan kepada setiap orang yang beriman. Oleh karena itu maksud dan tujuan utama untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Allah Taala berkenaan dengan puasa di bulan Ramadhan berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (al-Baqarah [2]:183)
Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Quran menjelaskan tafsir ayat ini bahwa puasa adalah perintah Tuhan yang sama universalnya dengan perintah shalat. Akan tetapi Islam memperkenalkan pemahaman yang baru tentang puasa. Sebelum Islam puasa hanyalah dimaksudkan untuk mengurangi makan, minum, dan tidur pada waktu berkabung dan berduka cita. Tetapi Islam menjadikan puasa sebagai sarana untuk meninggikan akhlak dan rohani manusia. Hal ini sesuai dengan firman-Nya la’allakum tattaqûn (supaya kamu memperoleh ketakwaan/menjauhi diri dari kejahatan). Sehingga tujuan dari puasa itu sendiri adalah untuk melatih manusia bagaimana caranya menjauhkan diri dari segala macam keburukan.

Sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan : Puasa artinya menahan diri dari makan, minum dan berjima disertai niat yang ikhlas karena Allah Yang Maha Mulia dan Agung, karena puasa mengandung manfaat bagi kesucian, kebersihan, dan kecemerlangan diri dari percampuran dengan keburukan dan akhlak yang rendah. Allah menuturkan bahwa sebagaimana Dia mewajibkan puasa kepada umat Islam, Dia pun telah mewajibkan kepada orang-orang sebelumnya yang dapat dijadikan teladan. Maka hendaklah puasa itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan lebih sempurna daripada yang dilakukan oleh orang terdahulu, sebagaimana Allah berfirman, “…untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (al-Maa’idah [5]:48)

Oleh karena itu, Allah berfirman, “Hari orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Sebab puasa dapat menyucikan badan dan mempersempit gerak setan sebagaimana hal ini dikemukakan dalam shahihain , “wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu sudah mampu memikul beban keluarga, maka kawinlah, dan barangsiapa yang belum mampu maka berpuasalah karena itu merupakan benteng baginya (HR Bukhari Muslim)

Pada permulaan Islam, puasa dilakukan tiga hari pada setiap bulan. Kemudian pelaksanaan itu dinasakh oleh puasa pada bulan Ramadhan. Dari Muadz, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya dikatakan bahwa puasa ini senantiasa disyariatkan sejak zaman Nuh hingga Allah manasakh ketentuan itu dengan puasa Ramadhan. Puasa diwajibkan atas mereka dalam waktu yang lama sehingga haram baginya makan, minum dan berjima’, serta perbuatan sejenisnya. Kemudian Allah menjelaskan hukum puasa sebagaimana yang berlaku pada permulaan Islam. (Ibnu Katsir, jld 1/h.286-287)

Sehingga untuk dapat memenuhi tujuan dari puasa maka perlu dipahami bagaimana cara Rasulullah SAW berpuasa. Beliau SAW adalah suri teladan terbaik bagi umat Islam, karena syariat Islam diturunkan kepada beliau SAW. Dan beliau lah wujud yang paling mengerti bagaimana harus mengimplementasikan setiap perintah dari Allah SWT. Jadi beliau lah teladan praksis yang sempurna bagi seluruh umat manusia karena beliau diutus oleh Tuhan bukan hanya untuk umat Islam saja melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Di dalam banyak hadits-hadits telah disebutkan dengan jelas, bagaimana cara Rasulullah SAW berpuasa.Nasehat dan petunjuk beliau SAW dalam hal puasa ini diantaranya :
Yang pertama adalah niatkan puasa untuk mencari keridhoan Allah SWT. Hal ini terdapat di dalam hadits muttafaqun ‘alaihi yang meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.
Di dalam hadits ini disebutkan agar puasa yang kita lakukan dapat menghasilkan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu maka syaratnya adalah meniatkan berpuasa hanya semata-mata untuk meraih ridho Tuhan saja.

Yang kedua adalah beliau SAW berpuasa Ramadhan setelah melihat hilal dan mengakhirinya setelah melihat hilal lagi. Hal ini terdapat di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : Berpuasalah kalian jika telah melihat hilal dan sudahilah puasa kalian jika telah melihat hilal lagi. Jika mendung menyelimutu kalian, maka genapkanlah hitungan bulan sya’ban menjadi 30 hari. (HR Bukhari dan Muslim)

Yang ketiga adalah beliau SAW membiasakan untuk makan sahur. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Anas RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Bersantap sahurlah kalian, sebab di dalam sahur itu terdapat barakah. (HR Bukhari dan Muslim) Salah satu barakahnya adalah tubuh kita menjadi fit dan bugar dalam menjalankan puasa dan kita terhindar dari lemah, lesu dan loyo ketika menghadapi puasa sehingga aktifitas yang lainnya dapat dikerjakan dengan baik.
Dan beliau SAW juga biasa mengakhirkan sahur, sebagaimana terdapat riwayat dari Anas bin Malik (dan dalam satu riwayat darinya bahwa Zaid bin Tsabit bercerita kepadanya) bahwa Nabiyullah dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Tatkala keduanya telah selesai sahur, Nabi berdiri pergi shalat, maka shalatlah beliau. Aku bertanya kepada Anas : Berapa lama antara keduanya selesai makan sahur dan mulai shalat? Anas berkata: Sekitar (membaca) lima puluh ayat.(HR Bukhari)

Yang keempat adalah beliau SAW mengupayakan untuk menyegerakan berbuka puasa. Hal ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mau menyegerakan berbuka. (HR Bukhari dan Muslim). Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW disebutkan sangat menyukai berbuka dengan makan kurma. Berkaitan dengan hal ini, terdapat riwayat dari Sulaiman Ibnu Amir Al-Dhobby bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air karena air itu suci. Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Yang kelima adalah beliau SAW selalu menyibukkan diri untuk membaca al-Quran. Berkenaan dengan hal ini terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : saat malaikat Jibril menemui beliau. Setiap kali Jibril menemui beliau pada malam Ramadhan, pasti beliau tengah mentadabburi al-Quran.(HR Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, di dalam bulan suci Ramadhan agar diusahakan untuk menamatkan tilawat al-Quran sehingga berkat dari tilawat al-Quran tersebut dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Yang keenam adalah beliau SAW memperbanyak sedekah lebih dari hari-hari biasa. Ibnu ‘Abbas RA meriwayatkan, ia berkata : Rasulullah SAW adalah sosok manusia yang paling pemurah, terutama sekali pada bulan Ramadhan, saat malaikat Jibril menemui beliau. Setiap kali Jibril menemui beliau pada malam Ramadhan, pasti beliau tengah mentadabburi al-Quran. Sungguh tatkala Jibril menemiu beliau, beliau adalah sosok manusia yang paling pemurah dalam mengulurkan kebaikan, bahkan lebih pemurah daripada angina (pembawa rahmat) yang terus bertiup. (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi di dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok teladan kedermawanan bagi kita, akan tetapi di dalam bulan Ramadhan kedermawanan beliau lebih hebat lagi dari biasanya.

Yang ketujuh adalah beliau SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Hal ini sesuai dengan bunyi matan beberapa hadits berikut ini, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sepeninggalnya. (Muttafaq Alaihi)
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila hendak beri'tikaf, beliau sholat Shubuh kemudian masuk ke tempat i'tikafnya. (Muttafaq Alaihi)
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah memasukkan kepalanya ke dalam rumah -- beliau di dalam masjid--, lalu aku menyisir rambutnya dan jika beri'tikaf beliau tidak masuk ke rumah, kecuali untuk suatu keperluan. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Merujuk hadits-hadits tentang i’tikaf ini, sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, maka pelaksanaan i’tikaf adalah mengambil tempat di masjid dan selama i’tikaf, mu’takif (orang yang melakukan i’tikaf) harus tetap berada di masjid sampai waktu i’tikaf selesai.

Yang kedelapan adalah beliau SAW tidak pernah memaksakan untuk tetap berpuasa bagi musafir, orang yang sakit dan sedang menghadapi udzur. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits berikut ini, dari Hamzah Ibnu Amar al-Islamy Radliyallaahu 'anhu bahwa dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku kuat berpuasa dalam perjalanan, apakah aku berdosa? Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Ia adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambil keringanan itu maka hal itu baik dan barangsiapa senang untuk berpuasa, maka ia tidak berdosa. Riwayat Muslim dan asalnya dalam shahih Bukhari-Muslim dari hadits 'Aisyah bahwa Hamzah Ibnu Amar bertanya. Di dalam hadits yang lain terdapat pula riwayat dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata : Rasulullah dalam suatu perjalanan, beliau melihat kerumunan dan seseorang sedang dinaungi. Beliau bertanya, Apakah ini? Mereka menjawab, Seseorang yang sedang berpuasa. Maka, beliau bersabda, Tidak termasuk kebajikan, berpuasa dalam bepergian.(HR Bukhari). Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang tua lanjut usia diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari untuk seorang miskin, dan tidak ada qodlo baginya. Hadits shahih diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda berkenaan dengan keutamaan dalam berpuasa di bulan Ramadhan, dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman : Semua amal shaleh anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kalinya, bahkan sampai 700 kalinya, kecuali puasa, sebab puasa adalah milik-Ku dan hanya Aku lah yang akan membalasnya, hal ini dikarenakan seseorang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Oran yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yakni kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika menghadap Rabbnya. Sungguh bau mulut orang ysang sedang berpuasa itu dalam pandangan Allah lebih harum dari minyak kesturi. Puasa adalah perisai. Jika seseorang sedang puasa, janganlah ia berbuat atau berkata yang tidak senonoh. Jika ada seseorang yang memakinya, hendaklah ia mengatakan : Maaf aku sedang puasa. (HR Bukhari-Muslim)
Bulan suci ramadhan adalah bulan yang sangat baik bagi kita berintrospeksi diri. Adanya komitmen untuk bisa menjauhkan diri dari segala macam keburukan dan kelemahan serta menggantinya dengan terus menerus mengupayakan kesucian diri dan banyak mengerjakan amal kebajikan akan dapat meningkatkan kedekatan hubungan dengan Allah SWT. Insya Allah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, jalan menuju keridhoan Tuhan semakin terbuka lebar. Wa Allah a’lamu bi ash-shawab

www.katalogislam.com

Read More......

Rabu, 21 Mei 2008

Asli Indonesia



Ayam Penyet dan Tempe Penyet
(Aku sudah coba resep ini,uenak banget deh..jangan lupa cobain juga ya)

Category: Meat & Seafood
Style: Soulfood


Description:
Ini pertama kali aku buat yang nama ayam dan tempe penyet. Sebelumnya aku gak ngerti apa sich ayam or tempe penyet itu, soalnya sama sekali gak pernah dengar dan gak pernah makan. Nah lucunya aku tuh tau makanan ini sejak tinggal di amrik (aneh), soalnya banyak dijual di toko2 Indo sini..hai...ya....payah oooo......
Yang lebih asyik lagi adalah jauh lebih enak bikin sendiri ketimbang beli....hehe.......
Gak percaya..silahkan coba..........


Ingredients:
1 ekor ayam ( aku pakai wing dan drum stick)
1 buah tempe, potong sesuai selera
100 ml air
1 sdm lime juice

Bumbu halus :
6 siung bawang putih
1 sdm ketumbar. sangrai
4 butir kemiri, sangrai
2 cm kunyit ( boleh pakai bubuk)
3 cm lengkuas (boleh pakai bubuk)
1 cm jahe (boleh pakai bubuk)
2 batang sereh, ambil putihnya
3 lbr daun salam
garam secukupnya

Bahan untuk sambal penyet :
5 buah cabe besar
5 buah cabe rawit
3 siung bawang putih
1 sdm gula merah
1 sdm terasi matang
1 buah tomat
garam secukupnya


Directions:
1. Lumurin ayam dengan lime juice untuk beberapa saat, cuci dan tiriskan.
2. Haluskan bumbu dan setelah itu lumuri ke ayam, diamkan kira 30-60 menit.
3. Masak air di panci bersama daun salam, sereh dan lengkuas sampai mendidih, masukkan ayam dan tempe yang telah dibumbuhi.
4. Masak dengan api sedang sampai ayam empuk dan air tinggal sedikit,tiriskan.
5. Panaskan minyak dan goreng ayam dan tempe hingga kecoklatan
6 Angkat hidangkan denga sambal penyet dan lalapannya.
7. Cara membuat sambal : Goreng semua bahan sampai matang, angkat.
Ulek semua bahan yang telah digoreng (jangan terlalu halus uleknya)

Penyajian :
Taruh ayam dan tempe di atas sambal yang telah diulek, setelah itu di penyetin (jgn terlalu kuat nanti ayamnya hancur semua)...

Note : Selain itu ayam dan tempe , kita juga bisa tambahkan yang lain seperti : hati, ampla,tahu, telur mata sapi, terong, ikan dst....(sesuai selera....)

Read More......

Selasa, 08 April 2008

My Beloved Islam


My Islam

By : Aisyah

My Islam is Islam which propagating peacefulness in the whole world
My Islam is Islam which teaching to love all God creation


My Islam is Islam which teaching to eliminate dislike to all human being
My Islam is Islam which teaching in honour of although differ belief
My Islam is Islam which teaching to do a kindness to all human being
My Islam is Islam which teaching [in order] not to get across and reciprocate all hostility with kindliness because my Islam [do] not teach to owe a grudge others.
My Islam is Islam which teaching to have wisdom to all human being
My Islam is Islam which teaching to forgive mistake [of] the others
My Islam is Islam which teaching to say downright and avoid falsehood
My Islam is Islam which teaching for the spread out of peacefulness and eliminate radicalism and hardness in the whole world
Love for All hatred for None

Read More......
Exchange link

Exchange link


Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali
Aisyah Blog